Tragis, Hidup Bertrand Berakhir di Tangan Aparat yang Seharusnya Melindunginya
Kesaksian di Balik Riuh Konvoi
Di balik tembok rumah duka yang lembap oleh air mata, DN (21), saksi kunci yang melihat maut menjemput temannya, menceritakan detik-detik mencekam itu. Segalanya bermula sekitar pukul 07.00 WITA. Sebuah konvoi melintas, ketegangan antar kelompok pecah, memicu keributan yang awalnya hanya dianggap sebagai perselisihan remaja biasa.
“Kejadiannya itu, dia pertama mengarah lawan, dia dari Toddopuli 4 terus keluar lagi di Toddopuli 2. Di situ mulai kejadian tabrakan, tabrakan sesama yang menyerang. Terus anak-anak tembaki dia, tembak mainan (senapan water jelly),” ujar DN dengan suara bergetar, Selasa (3/3/2026).
Namun, permainan "senapan air" itu berubah menjadi perkelahian fisik yang serius. DN mendengar suara yang membuat bulu kuduk berdiri—suara senjata yang dikokang di tengah kegelapan pagi.
“Pas tidak lama itu, katanya ini lawan makkokang (mengokang senjata). Terus korban bilang ‘saya dikena, dipukul’ sama itu yang lawan. Sudah itu, langsung korban ini pukul lawan. Iya berkelahi dia,” jelas DN.
Maut Datang dari Mobil Sipil
Harapan akan datangnya pertolongan sirna saat sebuah mobil sipil biasa muncul dari arah Hertasning. Bukan perlindungan yang didapat, melainkan timah panas yang menyalak tanpa ampun.
“Tidak lama itu, ada datang polisi dari Hertasning. Pakai mobil biasa. Terus tidak lama itu, dia turun, angkat senjata tembak mi satu kali, terus saya lari masuk,” ungkap DN. Dalam ketakutannya, ia hanya bisa menyaksikan dari kejauhan saat tubuh Bertrand yang lunglai diangkat oleh warga sekitar.
Di sisi lain, narasi dingin keluar dari Mapolrestabes Makassar. Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, bersikeras bahwa letusan itu adalah sebuah kecelakaan tragis saat Iptu N, anggota Unit Reskrim Polsek Panakkukang, mencoba meredam keributan.
"Ketika meronta, pistol yang masih dipegang oleh Iptu N itu meletus dengan tidak sengaja terkena bagian tubuh belakang," dalih Arya pada Selasa malam.
Histeris Sang Ibu: "Kenapa Anakku Kena?"
Bagi Desi Manuhutu, sang ibu, penjelasan "tidak sengaja" adalah belati yang ditancapkan lebih dalam ke jantungnya. Ia yang sedang berada di Jakarta saat kejadian, mendapati putranya telah menjadi jenazah dingin dengan luka-luka yang menyayat hati.
“Kok bisa ketembak? Kalau polisi menembak itu ke atas, kenapa anakku bisa kena? Berarti ini kesalahan Pak,” ucap Desi pedih, mengenang kata-kata yang ia lontarkan kepada petugas.
Tangisnya pecah saat melihat kondisi Bertrand untuk terakhir kalinya. "Mukanya sudah bengkak, ada benjolan. Terus kepalanya kayak berdarah, tapi nggak bisa dibuka," tuturnya dengan suara yang nyaris hilang ditelan isak tangis.
Menuntut Keadilan yang Terampas
Kasus ini kini menjadi sorotan tajam Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar. Mereka menegaskan bahwa senjata api bukan alat untuk membungkam nyawa remaja secara gegabah.
“Kami mendesak agar pelaku segera dinonaktifkan dan diproses melalui mekanisme pidana serta etik,” tegas Muhammad Ansar, Kepala Advokasi LBH Makassar.
Kini, Iptu N telah mendekam di balik jeruji Polrestabes Makassar. Namun, bagi keluarga Bertrand, proses hukum adalah jalan panjang menuju keadilan yang entah kapan akan mereka temukan di ujung lorong gelap Toddopuli.
0 Dilihat
Baca juga

0 Response to "Tragis, Hidup Bertrand Berakhir di Tangan Aparat yang Seharusnya Melindunginya"
Posting Komentar