Fiskal Rapuh, Kabinet Gemuk-Program Populis: Menanti Detik-Detik Negara "Ambyar"

Gambar ilustrasi Gambar ilustrasi
Pawarta - Dalam dunia medis, tubuh yang nampak gagah di luar namun ambruk hanya karena flu ringan adalah tanda nyata adanya penyakit penyerta (comorbidity) yang akut. Begitu pula dengan negara ini. Pemerintah boleh saja terus menebar narasi optimistis bahwa ekonomi kita "tahan banting", namun realitanya berkata lain. Ketika guncangan harga minyak dunia saja sudah cukup untuk memaksa pemerintah melanggar batas suci defisit dalam undang-undang, itu adalah pengakuan dosa bahwa fondasi ekonomi kita sebenarnya sedang keropos dan rapuh.

Memaksakan pelebaran defisit APBN hingga menabrak pagar hukum bukanlah langkah darurat yang heroik, melainkan tindakan ugal-ugalan. Kebijakan ini membuktikan bahwa jargon "ekonomi stabil" hanyalah bedak tebal untuk menutupi wajah fiskal yang pucat pasi. Mengubah batas defisit dalam undang-undang seharusnya menjadi langkah terakhir dalam kiamat ekonomi, bukan dijadikan "kartu sakti" demi membiayai ambisi-ambisi yang tak masuk akal.

Pemerintah harus berhenti berilusi. Menambah utang dan memperlebar defisit tanpa melakukan reformasi struktur belanja adalah tindakan menunda bom waktu. Kita sedang meminjam masa depan untuk membiayai kegagalan hari ini. Tanpa restrukturisasi radikal, pelebaran defisit ini hanyalah "obat penenang" yang efeknya akan hilang, meninggalkan luka yang jauh lebih bernanah.

Keberanian pemerintah kini dipertanyakan: Beranikah mereka memangkas beban-beban parasit yang menggerogoti anggaran? Program mercusuar seperti Danantara, Makan Bergizi Gratis (MBG) yang penuh masalah, hingga KMP harus segera dievaluasi total atau dihentikan sebelum menjadi beban abadi. Bahkan, pembubaran kabinet yang terlalu gemuk dan tidak efektif sudah menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar pilihan politik.

Jika pemerintah tetap bebal dan gagal melakukan reformasi fiskal yang nyata, jangan salahkan investor jika mereka mulai memandang Indonesia dengan sebelah mata. Biaya utang akan meroket, bunga akan mencekik, dan kepercayaan global akan menguap. Dalam jangka panjang, jika nakhoda tetap memaksakan kapal ini berlayar dengan lambung yang bocor, konsekuensinya hanya satu: kapal ini akan karam. Menjadi negara gagal bukan lagi prediksi yang jauh, melainkan ancaman nyata di depan mata. Alias bubar!
0 Dilihat
Baca juga
X
Komentar
Sembunyikan

0 Response to "Fiskal Rapuh, Kabinet Gemuk-Program Populis: Menanti Detik-Detik Negara "Ambyar""

Posting Komentar

 
Back to top

Arymedia Blogger theme. Berminat? Hubungi ARYMEDIA.

Lanjut scroll untuk lanjut baca artikel.